P U T I H

10/02/2010 07:44:00 AM

Kulihat jam dinding berwarna putih yang tertempel di atas almariku. Jarum jam dari tadi masih saja sama – sama bertengger di jarum berangka delapan. Aku bosan berhadapan dengan buku dan buku. Aku lelah berfikir, berfikir bagaimana mengubah propana menjadi propena ? Butana menjadi butena ? Aku benar- benar bosan dengan itu semua. 

Kuputuskan jalan – jalan keluar dari rumah malam itu. Hanya sekedar untuk mencari angin segar agar aku bisa berfikir dengan jernih kembali. Kuambil jaket berwarna putih yang menggantung di belakang pintu kamarku. Hangat sekali rasanya saat kupakai. Aku mulai berjalan keluar rumah, suara jangkrik dan sesekali lolongan anjing menemaniku malam itu. 

Tak terasa lamunanku terbang ke dalam memori 8 bulan yang lalu. Almarhumah ibuku memberikanku jaket ini saat hari ulang tahunku. Aku juga masih ingat jelas saat almarhumah berkata, ”Ibu adalah orang pertama yang akan memberimu selamat nak jika kamu bisa mewujudkan cita – citamu” lalu kami berdua tersenyum. Indah sekali, rasanya aku ingin sekali melihat dan memeluk ibu sekarang. Namun sayang, ibu sekarang telah tiada. Ibu meninggalkanku dan meninggalkan keluargaku karena sebuah kecelakaan kecil.
Aku mulai terbuyar dari lamunanku, namun tiba – tiba terdengar suara tabrakan. Entah apa yang setelah itu terjadi.
Sedikit cahaya menembus lensa mataku, dan yang kulihat semuanya putih. Oh ini rumah sakit. Samar terlihat di depanku, ada ayah dan kakakku. 

”Ayah, aku sakit apa? Terakhir aku hanya mendengar sebuah suara tabrakan. Seterusnya ... aku tidak ingat lagi.”
”Kamu ... kemarin pingsan. Kamu tertabrak lalu terpental sayang. Kenapa malam itu kamu tidak bilang ayah kalau kamu mau pergi keluar ?”
”Aku hanya ingin jalan – jalan.”
”Ayah dan kakak sangat khawatir padamu !”
”Maaf yah !”
”Ya sudah, istirahatlah !”
Ayah mencium keningku, lalu pergi keluar.
”Ayah ! Ayah mau kemana ?”
”Bertemu dengan dokter, kamu istirahatlah ! Ada kak Arif yang menemanimu.”
Ayah tersenyum lalu berjalan keluar kamar.
”Kak Arif, aku sakit apa ?”
”Kamu tidak sakit, hanya kemarin malam kamu pingsan. Mungkin kamu hanya perlu istirahat.”
”Kak Arif bohong.”
”Tidak Nad.”
Aku tahu kak Arif pasti menyembunyikan sesuatu kepadaku.

* * * * *

Tiga hari kemudian aku keluar dari rumah sakit. Satu kenyataan pahit yang kuterima, bahwa umurku di dunia tinggal sebentar lagi, paling lama 1 tahun. Kemarin aku tidak sengaja mendengar pembicaraan kakak dan ayah. Ayah berkata bahwa dokter telah memvonis umurku, ada penyempitan darah di syaraf otakku dan penyakit ini obatnya belum ditemukan. 

Aku ingat, aku masih punya satu cita – cita. Sebelum aku pergi, aku ingin mewujudkan cita – cita itu. Yap, menjadi juara OSN (Olimpiade Sains Nasional) kimia. 

Dua minggu lagi seleksi perwakilan OSN kimia di sekolahku. Setiap malam aku belajar. Aku ingin lolos dan bisa menjadi juara. Aku ingin bangga dengan diriku sendiri. Aku juga ingin melihat mereka tersenyum bangga di hari – hari terakhirku di dunia.

* * * * * *

”Horeeee ! Ayah ! Kakak ! Aku lolos !”
Senang sekali rasanya. Seandainya ibu masih ada, pasti beliau yang pertama kali memberiku ucapan selamat. Perjuangan ku tinggal satu tahap lagi. 

Selama enam bulan aku terus dibina oleh guru – guruku. Setiap malam juga aku terus berdoa kepada Tuhan, aku belum ingin pergi sebelum semua cita – cita dan harapnku terwujud. Tak terasa, besok adalah akhir dari perjuanganku, olimpiade kimia tingkat nasional.

”Ayah, doakan nadya berhasil ya !” pintaku kepada ayah.
”Iya sayang ... Ayah percaya, seorang Nadya Pramono bisa mewujudkan cita – citanya menjadi juara olimpiade tingkat nasional !” Ayah tertawa kecil lalu tersenyum kepadaku.
”Teimakasih ayah !” Lalu ku peluk ayah dengan lembut.

Inilah saatnya. Kuperhatikan lawan – lawanku. Dari penampilan mereka, mereka terlihat sangat hebat. Tapi aku tak ingin putus asa ataupun minder. Aku percaya bahwa aku bisa.

Aku mulai mengerjakan soal – soal yang telah diberikan pengawas. Tak terasa, dua setengah jam sudah aku mengerjakan soal – soal olimpiade. Namun tiba – tiba kepalaku pusing, sangat pusing. Badanku lemas juga tidak bisa ku gerakkan lagi. Aku tak sadarkan diri. 

Aku mulai bangun dengan perlahan. Ternyata aku sudah ada di rumah sakit lagi. Mata ku sedikit terbuka, ku lihat ayah dan kakakku. Mereka menangis, rupanya aku telah koma selama dua hari. Tubuhku masih lemah, kepalaku masih pusing. Aku mendengar ayahku berkata namun masih terdengar isakan tangisnya, ”Nadya selamat ! kamu bisa ! Ayah dan kakak bangga kepadamu. Ayo bangun nak !” 

Aku merasa sangat lega. Segera kuucapkan tahlil dan aku yakin inilah saatnya. Aku tersenyum manis sebagai senyum terakhirku kepada ayah dan kakakku. Nafasku terhenti, dan semuanya menjadi putih.

You Might Also Like

0 comments

Subscribe by Email

Subscribe