Review Film Filosofi Kopi 2: Ben & Jody

7/09/2017 09:54:00 PM

Ekspektasi saya dengan film Filosofi Kopi 2: Ben & Jody bisa dibilang tinggi. Saya adalah pembaca dan penonton Filosofi Kopi. Saya cukup menyukai film pertamanya dan menikmati beberapa episode webseries di Youtube. Dari beberapa effort tersebut, saya melihat keseriusan tim dalam menggarap film ini.

Satu minggu lalu ketika saya melihat promosi nonton bareng "nobar" Filosofi Kopi 2: Ben & Jody di Malang, tanpa pikir panjang saya langsung mengajak teman saya untuk menonton film tersebut bersama.

Meskipun ada acara meet & greet juga dengan dua aktor utama dari film tersebut, Chico Jericho (Ben) dan Rio Dewanto (Jody), sejujurnya saya tidak peduli. Saya lebih memilih untuk menontonnya lebih awal sebelum secara resmi diputar serentak di bioskop serta menjadi salah satu cara saya untuk menutup akhir pekan.

--

Setelah merasa cukup "membagikan" kopi terbaik dengan berkeliling Indonesia, serta ketiga karyawannya yang mengundurkan diri, Ben dan Jody memutuskan untuk kembali ke Jakarta dan membangun kembali kedai Filosofi Kopi. 

Hadirlah Tarra (Luna Maya), seorang investor yang turut andil dalam mewujudkan impian mereka berdua untuk membuka kedai Filosofi Kopi di tempat yang lama, dan bahkan berekspansi ke kota lain. Selain itu, muncul seorang barista bernama Brie (Nadine Alexandra) yang turut ikut menambahkan cerita dalam rangkaian film ini.

Banyak konflik yang muncul dalam film ini, mulai dari persahabatan, idealisme, keluarga dan cinta. Menurut saya pribadi, berbagai kompleksitas yang dibangun masih terkesan nanggung, tidak ada klimaks yang benar-benar klimaks. Setidaknya itu yang saya dan teman saya rasakan.

Selain itu, beberapa alur juga menurut saya tidak penting untuk diceritakan, maksudnya jika saya bisa memencet tombol skip, tidak akan memengaruhi cerita selanjutnya.

Misalnya saat si Jody berbicara kepada Tarra tentang sebuah pohon yang unik di Tana Toraja. Pada scene itu, saya kurang mendapat momen "romantis" hubungan antara Jody dan Tarra. Padahal setelah itu Jody mengakui kalau dia menyukai Tarra.

Dasarnya saya yang gampang nangis kalau sudah ngomongin soal keluarga, cerita meninggalnya Ayahnya Ben dan tentang apa yang ditinggalkan oleh Almarhum ke Ben tetap saja membuat saya menangis. Ini satu-satunya scene yang bisa "membawa" penonton, kalau menurut saya.

Lalu, bagaimana ending nya? Saya tidak mau spoiler banyak di sini. Namun yang jelas, akhir cerita sekuel ini di luar tebakan saya. Saya menyarankan untuk menonton sendiri saja di bioskop.

Terkait dengan sinematografi, seperti dengan film pertama dan webseries nya, film ini dibalut dengan visual yang indah, tidak seperti film Indonesia pada umumnya. Saya suka bagaimana film ini mampu menangkap landscape dengan apik, termasuk bagaimana mengambil detail setiap gambarnya, misalnya saat Ben menyeduh kopinya.

Saya juga suka bagaimana film ini secara tidak langsung mempromosikan Indonesia, yakni dengan mengambil cerita di beberapa kota besar seperti Jakarta, Bali, Jogjakarta, Makassar dan Tana Tonaraja, serta menggunakan kaos dengan desain dari seniman lokal.

Terakhir, terkait dengan soundtrack, secara keseluruhan lagu yang dipilih pun sesuai. Saya mengapresiasi dengan kedua pemain utama yang menyanyikan salah satu soundtrack nya sendiri serta menggandeng beberapa band indie. Namun yang paling saya suka adalah soundtrack di akhir cerita yang menggunakan salah satu lagu favorit saya dari Banda Neira, berjudul "Yang Patah Tumbuh, Yang Hilang Berganti" haha. 

Overall, Filosofi Kopi 2: Ben & Jody cukup ringan dan menghibur untuk ditonton. Saran saya, nikmati saja cerita dan sinematografinya, tidak perlu memberikan ekspektasi yang terlalu tinggi.






You Might Also Like

0 comments

Subscribe by Email

Subscribe