Sudah Bukan Waktunya Lagi untuk Hati Berpindah-Pindah

8/14/2014 09:47:00 PM

"Sudah bukan waktunya buat kita pindah-pindah hati. Aku sudah capek kalau harus berkenalan dengan orang lagi, membiasakan, dan belum lagi kalau harus menata hati misal akhirnya patah hati."
Kurang lebih, salah satu sahabat saya mengeluarkan pernyataan seperti itu disela-sela obrolan pulang setelah akhirnya semesta memberikan waktu untuk kami pergi berdua, di detik-detik sebelum saya balik ke Jakarta pada hari itu juga. 

Kami berdua, yang memang sering kali memperbincangkan hal yang (sepertinya) orang dewasa bincangkan sejak kami duduk di bangku menengah atas, selalu setuju bahwa perkara hati bukanlah perkara yang main-main, apalagi kekanak-kanakan. 


Kami berdua setuju bahwa sudah bukan waktunya lagi, dengan usia dan kerangka berpikir kami sekarang, memiliki hubungan yang-asal-mengisi-kekosongan. Semua perlu dipertimbangkan. Karena bagi kami, perkara berpindah hati adalah bukan perkara sederhana, sesederhana jalan pikiran dan bagaimana kita bertingkah ketika jaman masih berseragam bangku sekolahan.

Kami berdua juga baru-baru ini menyadari bahwa sudah bukan waktunya lagi bepergian secara intens dengan satu-dua-tiga orang lalu meninggalkan harap pada satu pihak (meskipun kami berdua tidak berniat untuk melakukannya). Kami pernah ada pada posisi di mana kami berdua berteman dengan siapa dan menganggap bahwa semua hal menjadi wajar jika didasari atas niat hanya berteman. Kami salah. Akan ada titik di mana kita menyadari bahwa semuanya sebenarnya kosong. Kita harus mulai bisa untuk mengatakan kata tidak.

Sekarang, saatnya untuk memilah apakah hati kita memilih orang yang tepat. Bukan orang yang pada akhirnya akan kita sebut sebagai suatu kesalahan, meskipun kesalahan tersebut tetap memiliki hikmah-yang-dapat-diambil.

Saya baru saja membaca tulisan terbaru di blog seorang teman bahwa tidak banyak orang mengerti hal ini. Entah kebetulan atau tidak, kami berdua memang selalu setuju bahwa suatu hubungan tidak hanya sekadar berkata aku-cinta-kamu, tetapi lebih jauh dan lebih dalam dari itu ...

In fact a mature person does not fall in love, he rises in love. The word ’fall’ is not right. Only immature people fall; they stumble and fall down in love. Somehow they were managing and standing. They cannot manage and they cannot stand – they find a woman and they are gone, they find a man and they are gone. They were always ready to fall on the ground and to creep. They don’t have the backbone, the spine; they don’t have that integrity to stand alone.
A mature person has the integrity to be alone. And when a mature person gives love, he gives without any strings attached to it: he simply gives. And when a mature person gives love, he feels grateful that you have accepted his love, not vice versa. He does not expect you to be thankful for it – no, not at all, he does not even need your thanks. He thanks you for accepting his love. And when two mature persons are in love, one of the greatest paradoxes of life happens, one of the most beautiful phenomena: they are together and yet tremendously alone; they are together so much so that they are almost one. But their oneness does not destroy their individuality, in fact, it enhances it: they become more individual. 
Two mature persons in love help each other to become more free. There is no politics involved, no diplomacy, no effort to dominate. How can you dominate the person you love? Just think over it. Domination is a sort of hatred, anger, enmity. How can you think of dominating a person you love? You would love to see the person totally free, independent; you will give him more individuality. That’s why I call it the greatest paradox: they are together so much so that they are almost one, but still in that oneness they are individuals. Their individualities are not effaced – they have become more enhanced. The other has enriched them as far as their freedom is concerned.
Immature people falling in love destroy each other’s freedom, create a bondage, make a prison. Mature persons in love help each other to be free; they help each other to destroy all sorts of bondages. And when love flows with freedom there is beauty. When love flows with dependence there is ugliness.

– Osho (via kangalex)


You Might Also Like

2 comments

  1. Salam kenal... happy blogging !

    BalasHapus
  2. kayaknya aku kenal deh sepotong obrolan yang dikutip tuh :D

    BalasHapus

Subscribe by Email

Subscribe