Pulang atas Sepi, Sepi atas Pergi

11/20/2014 04:42:00 AM

Pulang ke rumah, bagi saya berarti bertemu kembali dengan kedua makhluk Tuhan yang paling saya cinta di dunia ini: ibu dan bapak. 

Malam ini aku akan kembali lagi ke Jakarta. Lumayan, empat malam tidur di kasur rumah, tempat paling nyaman di seluruh dunia.

Empat hari di rumah, meskipun tidak sepenuhnya di rumah karena harus berpergian untuk beberapa kegiatan, membuat saya berpikir ulang dan merefleksikan beberapa hal tentang saya, orang tua dan keluarga.


Semenjak adik saya satu-satunya memasuki dunia sekolah menengah atas, begitu terasa bagi saya, bagaimana sepi (dan sedih) yang harus dirasakan oleh kedua orang tua saya, yang mulai ditinggalkan sementara oleh satu per satu anaknya.

Pertama, enam tahun yang lalu, 2008, ketika kakak duduk di bangku menengah atas, kakak harus terpaksa kos dengan alasan jarak yang cukup jauh (untuk ukuran anak sekolah) antara rumah dan sekolah. Kakak pulang seminggu sekali, hanya berada penuh di rumah setiap sabtu dan minggu.

Tahun berikutnya, 2009, giliran saya yang hanya berada penuh di rumah setiap akhir minggu, dengan alasan yang sama dengan kakak. Iya, kami menempuh pendidikan tingkat atas di sekolah yang sama.

Tiga tahun berlalu, kakak sudah melanjutkan studi di Jogjakarta, dan saya akan merantau ke jauh sana di ibu kota, Jakarta. Kakak yang masih sebagai mahasiswa tahun pertama kala itu, masih cukup sering pulang ke rumah, Satu minggu sekali. Paling lama dua minggu sekali.

Jakarta secara fisik menjauhkan diri saya dengan kedua orang tua dan keluarga saya. Paling banyak, pulang dua kali setiap satu semester. Itupun dengan durasi pulang yang tidak menentu. Bisa satu minggu, bisa tiga hari dan bisa satu bulan.

Dua tahun berlalu, 2014 semua kepergian sementara yang menghasilkan sepi mulai terasa. Adik, baru senang-senangnya ikut organisasi pramuka dan OSIS di sekolah. Pulang satu minggu sekali, kecuali ada kegiatan kepramukaan di akhir minggu yang memaksanya untuk tidak jadi pulang. Kakak, tenggelam dalam tanggung jawab, bisnis serta tugas akhir yang membuat ia pulang ke rumah satu, dua atau tiga minggu sekali. Saya, tidak bisa diharapkan untuk sering berada di rumah karena alasan jarak.

Tanpa ketiga anaknya. Tanpa ribut suara khas. Tanpa jejak langkah kaki-kaki di lorong rumah. Tanpa kekacauan yang ditimbulkan.
Hanya berdua. Tenggelam dalam masing-masing kesibukan. Makan malam seadanya karena memang hanya berdua. Ber-du-a. 
Disaat orang tua mulai menua, dan satu per satu anak pergi untuk sementara.
Bagaimana untuk tahun-tahun besok, besok dan kedepannya?

You Might Also Like

0 comments

Subscribe by Email

Subscribe