Mereka Tidak Tahu ? Mereka Tidak Peduli ? Atau Mereka Buta ?

2/14/2012 06:28:00 AM


Sejujurnya, aku cukup prihatin. Kebijakan yang cukup-susah-payah dibuat, kebijakan yang memerlukan tidak-sedikit-uang untuk menyusunnya. Klimaksnya, hanya untuk dilanggar, dipajang, sebagai pelengkap, atau hal – hal remeh - temeh lainnya.

Coba bayangkan, sekali pertemuan untuk merapatkan suatu kebijakan, berapa uang yang dikeluarkan ? Uang konsumsi, uang datang, uang transportasi, dan lain – lain. Uang – uang itu juga masih harus dikalikan dengan berapa kali rapat diadakan. Tidak mungkin hanya satu kali rapat bukan ? Berkali – kali.

Sejujurnya, aku cukup prihatin. Kebijakan yang seyogyanya untuk memperbaiki, membuat lebih baik, ujung – ujungnya hanya dinikmati oleh kroni – kroni tikus dipuncak piramida lingkungan. Mereka bukan hanya tikus, tapi tikus yang bertransformasi menjadi semut. Mencari ‘gula’, memanggil teman – temannya, menggerogoti secara diam. Tanpa suara. Tanpa izin. Mereka terlalu bebal.

Sejujurnya, aku cukup prihatin. Mereka yang berada dibawah piramida lingkungan, terpaksa menghiyakan. Menerima. Seolah – olah pintu gerbang super canggih sudah dikunci dari dalam, dengan berbagai pelindung canggih. Tanpa ada yang tahu, apa yang ada di dalam ? Tanpa ada yang tahu, mereka siapa ? Apa yang mereka lakukan ? Sepintas, apa mereka bagian dari kita ? 

Sejujurmya, aku cukup prihatin. Aspirasi ? Persetan dengan kata benda itu. Negara demokrasi ? Hanya predikat tanpa alasan yang ada di buku Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) ku. Juga buku sejarahku. Bahkan isinya hampir sama, sejak aku sekolah dasar hingga sekarang, siswa tingkat akhir sekolah menengah atas.

Sudahlah, aku cukup muak dengan mereka. Aku hanya  marah, dan prihatin. Kepada mereka. Mereka yang dipilih oleh orang-orang-berumur-tujuh-belas-tahun-keatas. Mereka yang bebal.
Tikus berdasi yang bertransformasi menjadi semut !

source : http://www.kaskus.us/showthread.php?t=10436268

You Might Also Like

8 comments

  1. Ambil hikmahnya aja. Mereka itu sebenarnya sengaja, membuat peraturan untuk mendapatkan komisi. Salah kita juga, kenapa malah memilih mereka? kalo mau, ayo maju dong, ganti mereka.

    BalasHapus
  2. pernah denger "kalo gak edan gak keduman"?
    semboyan ini sudah mengakar.
    tapi tetap semangat untuk menciptakan dunia seideal mungkin. hidup berawal dari mimpi.

    BalasHapus
  3. yang penting kita gg gitu yah :)

    BalasHapus
  4. sejujurnya aku bukan cukup lagi, malah sangat prihatin :((. ada puluhan teman-temanku yang berteriak dan berdemo, suara mereka didengar telinga kanan lalu muntah ditelinga kiri. salah siapa tikus itu ada disana? kalau kita bicara sekarang artinya ini impact dari masa lalu, kemana kita saat tikus ini 'berencana' akan duduk disana? mungkin itu beberapa pertanyaan yang harusnya kedepan ditelaah anak muda ketika dia memilih presidennya, dewannya, gubernurnya, camat, atau rt-nya. mereka itu pembantu kita setelah atau sebelum dipilih, "jangan mau jadi pembantu yang tahun depan digaji untuk memilih mereka". Tulisan yang bagus, tentang 'tikus' ;)


    soal kutipan "kebijakan yang seyogyanya...." apa kata itu karena kamu tinggal di jawa tengah? satu lagi, apa setiap komentar diposting nggak dijawab? *abaikan just kidding ;)

    @fahryB - http://notinformation.com
    Viva La Independent Blogger!

    BalasHapus
  5. @cucu_hermawan . terkadang kita tidak tahu, mereka seperti apa ? mereka pandai bersandiwara bung . aku belum pernah memilih mereka, karena belum menjadi hak saya :)

    @anonim . belum pernah denger, hehe . tapi ya bener sih, mereka buta karena dunia . yaap, tetap semangat ! dimulai dari kita .

    @uzay . :) negeri kita bung !

    @atha . benaaar ! dan seenggaknya kita mulai berkoar mengajak orang2 disekitar kita untuk tidak berubah menjadi 'tikus' .

    @fahryB . terimakasih sarannya, aku msh belum bisa mengurus blog ini secara baik, karena yah tuntutan dan aku harus berjuang untuk lulus dan lolos . but, thanks sarannya :)
    tentang keadaan ini (baca : tikus2 yg berkeliaran), kalau mau marah, juga sama siapa ? mereka enggak peduli. kalau mau diam, tapi kan bicara adalah hak kita .
    Heheh, mungkin pengaruh wilayahnya, aku jg cuma sering baca kata itu di suratkabar2 :)

    BalasHapus
  6. yah...beginilah Indonesia kita yang tercinta :D kita sebagai anak bangsalah yang harus memperbaikinya:) mudah-mudahan kita semua jadi pribadi yang positif:) hheheehe #tsah

    BalasHapus
    Balasan
    1. yaaaaaap :') semua dimulai dari langkah2 kecil kita :D

      Hapus

Subscribe by Email

Subscribe