Selasa, 22 Januari 2013

Refleksi Indonesia Sekarang : Cinta Ditolak, Murid SD Mau Bunuh Diri


Kemarin setelah selesai ujian, seorang teman memberi tahu tentang berita Cinta Ditolak, Murid SD Mau Bunuh Diri di atas kepadaku. Aku berkata dalam hatiku sendiri, "Tuhan, itu salah siapa ?". Bahkan ketika aku sekolah dasar, tahu bagaimana orang bisa pacaran aja tidak. Dan anak itu, sudah bersiap dan akan bunuh diri karena ditolak cintanya. Dunia memang benar - benar telah mengalami pergeseran. Baik budaya, sosial, cara berpikir, dan lain - lain.

Berita tersebut merupakan salah satu dari banyaknya masalah anak yang begitu miris sekarang. Tetapi memang bukan salah anak. Bukan sama sekali. Mereka tidak bisa membentuk katakter diri mereka sendiri karena kemampuan reflektif otak yang masih kurang. Mereka belum bisa membedakan mana baik dan mana buruk. Apa yang membentuk mereka adalah lingkungan mereka. Semua komponen berpengaruh, baik keluarga, lingkungan maupun media.

Keluarga. Masih banyak keluarga yang apatis dengan anaknya. Kebanyakan keluarga (apalagi keluarga kelas menengah ke bawah), sekadar melaksanakan kewajibannya untuk bersekolah di sekolah formal. Itu pun tidak akan maksimal, karena ya melihat sekolah - sekolah formal yang menyediakan pendidikan "apa adanya". Mereka perlu kontrol dan kasih sayang dari keluarga mereka sendiri.

Media. Jika dipresentasekan, dosa terbesar dari pergeseran sosial di dalam dunia anak-anak adalah media. Media dan marketingnya. Salah satu dosa marketing yang aku pernah baca, mereka melemahkan kemampuan reflektif otak dan mengeksploitasi kemampuan reflektif otak yang minim. Dengan kata lain, anak - anak secara tidak langsung telah dieksploitasi demi mencapai tujuan media dan marketing itu sendiri. Perlu kesadaran media sendiri untuk menyediakan berita, hiburan dan apapun yang mendidik. Bukan hanya tentang cerita cinta picisan, tetapi lebih dari itu. Seandainya media bisa memberi berita, hiburan atau apaun yang edukatif, inspiratif dan membangun.... ah pasti cara berpikir dan sikap seluruh bangsa Indonesia akan jauh-jauh-jauh lebih baik.

Rasanya ingin sekali meneruskan tulisan ini dan benar - benar menganalisis hingga seluruh pihak - pihak yang terlibat. Tapi, waktu sudah menunjukan waktu aku harus melakukan aktivitasku dan memaksaku harus berhenti. Baiklah, aku  hanya berharap masalah di atas benar - benar menjadi pertimbangan untuk nemikirkan masa depan anak Indonesia. Mereka yang akan membawa bangsa ini setelah generasimu dan generasiku berakhir.

Mereka yang masih polos, jangan diracuni dengan pikiran yang irasional, yang tidak cocok dengan apa yang seharusnya mereka dapatkan. 
Mereka yang masih polos, biarkan mereka berkembang dengan semesta yang juga ikut mendukung mereka.

28 komentar:

  1. Anak SD sekarang kelakuan. Mau bunuh diri kok naeknya ke tower. Padahal baygon rebus lebih ampuh, eh?

    Kurangnya pendidikan dari orang tua juga termasuk kayanya. Terlebih lagi dari lingkungannya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, orangtua kurang pendidikan kan biasanya mereka yang ada di kalangan bawah dek

      Hapus
    2. iya betul tuh. kebanyakan orang tua dari kalangan bawah ngajarin anaknya gak bener. kecilnya aja udah diajarin ngomong² kasar, iuhh~

      Hapus
    3. itu karna mereka kurang pendidikan, coba aja klo pendidikan di indonesia itu merata kan gak kayak gitu.
      ikut prihatin

      Hapus
    4. merata sih merata, tapi kualitasnya yang belum merata :) apalagi mayoritas sekolah pinggiran :)

      Hapus
  2. kagak pernah denger ceramah noh soal ganjaran orang mati bunuh diri kali ya? :P

    folbek blog ane ye. makasih :)

    BalasHapus
  3. wah ckck anak jaman sekarang -.- gue ada nih artikel yang ngebahas abg.. http://secretofsunday.blogspot.com/ salam kwancut :D

    BalasHapus
  4. Kebetulan aku juga udah tau berita ini mbak.

    #Prihatin

    BalasHapus
  5. prihatin

    akibat cinta monyet semua begini :miris

    BalasHapus
    Balasan
    1. :') makanya tutup mata dan telinga mereka (anak) dari hal - hal yang berbau cinta picisan

      Hapus
  6. kasian mama nya tuh anak , mestinya belajar dulu sama gue .

    BalasHapus
  7. *shock*

    ya ampun. -_- efek kebanyakan nonton sinetron cinta-cintaan yang ga sesuai umur.

    BalasHapus
  8. yang bikin gitu yang orang tuanya n lingkungannya...

    orang tua kan sebagai protektor tuh, semeneta lingkunaggannya kasih pengaruh, belum lagi di TV banyak film cinta-cinta-an, orangtua... orangtua,,, kuncinya orangtuaaaaa

    BalasHapus
  9. anak kecil sekarang aneh2 ya .__.
    gw pengen banget bikin fellowship buat anak2 yang udah kena virus kayak begitu biar nanti jadi manusia yang bener kalo udah dewasa nanti ,__,

    BalasHapus
    Balasan
    1. aamiin aamiin. setuju ! semoga terlaksana :)

      Hapus
  10. Transisi cara hidup yang tidak terkontrol, tanya siapa ??

    Miris gw bacanya.. hmmm

    BalasHapus
    Balasan
    1. tanya rumput yang bergoyang, mungkin :')

      Hapus
  11. Comen baek gala ! namun itu bukan subtansinya ? Saya punya pendapat kalau yang menyebabkan ia nekad bunuh diri di usia masih belia karena cinta ditolak....... itu masalah dia dewasa sebelum waktunya ....Penyebabnya ? Informasi yang di proses anak sd ini sudah tingkat jenius....karena semua informasi diterima semuanya dari faktor lingkungan, media ( Cetak atau Elektronic ) dan minimnya informasi atau kalau jujur nol besar tetang agama. Saya percaya jika anak sd ini mengenal agama dengan baik atau dimanfaatkan mengenal lebih dalam,,,bukan bunuh diri yang didapat melainkan kesuksesan yang dapat........215

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dewasa sebelum waktunya ? Diksi yang menarik.
      Tapi kembali lagi kan... media, lingkungan yang membantu membuat mereka seperti itu.

      Hapus
  12. yah...itulah efek dari trlalu srink nton tv dan ortu ngak bimbink ato contrl acara yg d'liat anake

    BalasHapus
  13. Cinta adalah sesuatu substansi yang rumit.

    Ada yang memuja-muja cinta dan mengatakan segalanya akan selesai bila bertemu cinta. Ada juga yang memaki-maki cinta dan mengatakan cinta adalah sumber masalah.

    Sejujurnya saya senasib dengan anak laki-laki itu. Cinta saya juga ditolak oleh kawan sendiri. Awalnya dia tak mau menjawab. Tapi setelah saya paksa, akhirnya dia mau menolak saya. Awalnya saya memang merasa orang paling bodoh sedunia. Apalagi setelah dia memutuskan untuk bercinta dengan orang lain.

    Yang menghina-hina anak ini jelaslah tak tahu rasanya ditolak teman. Tapi benar memang bahwa bunuh diri itu salah tak peduli alasannya.

    Saya sadar semua orang dapat jatuh cinta. Saya sadar teman saya itu juga merasakan perasaan yang saya punya walau dengan orang lain. Saya juga sadar anak laki-laki itu juga merasakan hal yang saya rasakan tak peduli usianya.

    Maka dari itu jangan saling menyalahkan. Apa jadinya jika kita terus naruh komen memaki-maki anak itu di sini, eh, tiba-tiba adik atau anak kita gak berada di samping kita. Kita cari di kebon, loh malah berduaan ama anak tetangga.

    Cinta akan indah bila sudah waktunya. Mbak, mas yang belum siap kawin jangan hanya nyalahin orang lain. Anda juga jangan pacaran dulu, nanti ditiru adek loh!

    Salam kenal mbak Putri
    Jadi teman yuk! :)

    BalasHapus