Ketika Kejahatan Menjadi Hal yang Biasa (di Ibu Kota)

7/18/2013 11:25:00 PM

"Jakarta itu keras, nak."

"Jakarta itu gudangnya kriminal."
"Jangan sekali-kali pergi sendiri kalau di Jakarta."

Tiga petuah di atas hanya sebagai prolog. Aku yakin masih banyak sekali petuah-petuah oleh orang tua terutama, ketika memandang ibu kota negaranya, Indonesia. Aku tidak sepenuhnya setuju, tetapi tidak sepenuhnya juga menolak. Terdapat fakta-fakta yang merepresentasikan bahwa hal-hal buruk tentang Jakarta (terutama kriminalitasnya)  memang ada, namun ada juga fakta-fakta yang mampu menolak negative statement tersebut.

-------------------------------

Berbicara tentang kejahatan di ibu kota, kemarin aku baru sadar bahwa memang kejahatan dipandang sangat biasa di Jakarta terutama oleh orang-orang yang tinggal di dalamnya. Kejahatan yang aku maksudkan adalah kejahatan oleh para warga-para rakyat-dan sebagainya, bukan kejahatan oleh para pejabat daerah atau pejabat negara (re: korupsi).

Beberapa hari lalu, aku dan satu temanku naik metro mini untuk menuju ke suatu tempat. Awalnya biasa saja kami duduk di salah satu bangku kosong. Hingga akhirnya setelah sekitar sepuluh menit kendaraan berjalan, masuk dua orang berpakaian dan berperilaku seperti pengamen. "Ah, hanya ngamen," sebelumnya aku berpikir seperti itu. Ternyata dugaanku salah, mereka dengan serta merta berkata:
"Assalamu'alaikum Wr. Wb. Saudara-saudara sekalian, daripada kami menjambret atau mencuri barang-barang Anda, silahkan memberikan kami uang sekadarnya."
Aku cuma menelan ludah, secara terang-terangan mereka berbicara seperti itu. Bahwa hal yang sebelumnya tabu, dan dilakukan secara sembunyi-sembunyi, sekarang semua sudah berbalik arah. Mereka tidak malu lagi. Mau tak mau, ikhlas tak ikhlas tetap harus memberi kepada mereka, sedikit ngeri kalau membahayakan keamanan diri sendiri.

Ada lagi, di daerah dimana aku tinggal sekarang. Aku tinggal di salah satu daerah perumahan padat penduduk di Jakarta. Satu perkampungan dimana jarak gang bisa hanya setengah meter. Di daerah itu aku kira aman-aman saja, nyatanya tidak juga. Masih sering para mahasiswa diikuti hingga terkadang dihipnotis oleh seorang tak dikenal lalu diminta uang atau barang-barangnya. Belum lagi tawuran antar gang oleh para remaja yang didukung orangtua masing-masing, pencurian di kos, dan lain-lain. Aku terkadang tidak habis pikir, tapi that's the fact here.

Bergelut dengan kejahatan yang menjadi hal biasa di ibu kota bukan berarti tak bisa menghindar.  Bahkan aku yang masih sering dan masih suka berpergian sendiri, tak jarang ke tempat yang jauh ... Alhamdulillah dan semoga tidak akan kejadian-kejadian yang telah beberapa aku sebutkan di atas menimpa kepada diriku. 

Untuk menjaga keamanan diri sendiri, mungkin tak perlu aku utarakan di sini karena sudah banyak dibahas di artikel-artikel atau google pasti sudah menyimpan banyak tips-tips. 

Lalu, alasan apa yang melatarbelakangi munculnya isu  kejahatan menjadi hal yang biasa di ibu kota yang aku jadikan judul tulisan ini? Ya, lagi-lagi kemiskinan yang menjadi sumber dari "menjadikan biasa" hal tersebut. Kemiskinan tidak hadir serta merta, ada banyak faktor pula yang melatarbelakangi munculnya satu kata tersebut. Sebut saja pendidikan, ledakan penduduk, sempitnya lapangan pekerjaan, dan sebagainya. 

Dari sekian faktor, aku lebih berfokus pada bagian pendidikan, baik pendidikan moral maupun pendidikan akademis. Keduanya berperan sangat banyak dalam menciptakan kemiskinan, dan kemiskinanlah yang berpengaruh besar terhadap munculnya kejahatan atau kriminalitas. Aku setuju bahwa tanpa pendidikan sangat dekat dengan kemiskinan, dan kemiskinan dekat dengan kriminalitas.

Mungkin akan sangat besar pekerjaan rumah pemerintah dalam mengurus orang-orang seperti itu. Artinya pemerintah harus melakukan dua kegiatan besar. Pertama, berusaha memperbaiki citra "rasa aman" agar dirasakan oleh seluruh warga, yang artinya "memperbaiki" mereka yang telah terlanjur "jatuh ke dalam lubang tersebut." Kedua, memperbaiki pendidikan terutama moral untuk menyiapkan generasi-generasi yang mampu menjaga keamanan dan kenyamanan yang sebenarnya telah tertuang jelas dalam UUD 1945.

Pemerintah tidak mungkin juga berjalan sendiri, diperlukan aku, kamu yang membaca dan kita semua dalam mendukung pembangunan dan perkembangan ini. Apa yang kita bisa lakukan? Belajar yang sungguh-sungguh, mencari dan menciptakan peluang, dan menolong sesama. Menolong sesama jangan mentah-mentah diartikan sebagai memberi "materi" kepada mereka. Tetapi lebih dari itu, saling mendukung orang-orang sekitar, mengajarkan hal bermoral kepada anak-anak di sekitar kita, dan lain-lain.

Kejahatan boleh menjadi hal yang biasa (di ibu kota), tetapi kita tidak. Kita tidak diciptakan untuk menjadi biasa. Kita dilahirkan di negeri ini bukan tanpa alasan. Kita dilahirkan untuk memperbaiki carut-marut yang ada.




You Might Also Like

1 comments

  1. ypaa betul pendidikan yang utama sih, kontras dengan masarakat bali.. mereka nggak kerja juga nggak pake cara kriminal, terlihat dari rumah terbuka di bali udah biasa dan aman saja.. toh kalau ada maling pasti orang dari luar bali hehe, budaya disana masih kuat :')

    BalasHapus

Subscribe